Densus 88 dan Kemenag Mabar Bersihkan Katedral Roh Kudus, Perkuat Pencegahan Intoleransi Lewat Aksi Nyata

Densus 88 dan Kemenag Mabar Bersihkan Katedral Roh Kudus, Perkuat Pencegahan Intoleransi Lewat Aksi Nyata

 

LABUAN BAJO, MABARPOS.COM – Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Flores Densus 88 Anti Teror Polri terus memperkuat pendekatan pencegahan intoleransi dan radikalisme melalui aksi sosial yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Bersama Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Manggarai Barat, Densus 88 menggelar kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan Gereja Paroki Katedral Roh Kudus Labuan Bajo, Jumat (3/7/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kolaborasi lintas sektor dalam mendukung penguatan moderasi beragama, sekaligus menjadi implementasi program inovasi Kemenag Manggarai Barat bertajuk GeJur KEtAh (Gerakan Jumat Bersih Lingkungan Kantor dan Rumah Ibadah).

Aksi bersih-bersih melibatkan Tim Pencegahan Satgaswil Flores Densus 88 AT Polri, aparatur sipil negara (ASN) Kemenag Manggarai Barat, serta penyuluh agama dari berbagai agama. Seluruh peserta bersama-sama membersihkan area gereja sebagai simbol nyata kebersamaan lintas iman.

Ketua Tim Pencegahan Satgaswil Flores Densus 88 AT Polri, Iptu Silvester Guntur, mengatakan bahwa pendekatan pencegahan tidak hanya dilakukan melalui edukasi, tetapi juga diwujudkan lewat kegiatan sosial yang mampu mempererat hubungan antarumat beragama.

“Ketika hal-hal positif seperti ini menjadi budaya di tengah masyarakat, maka potensi yang dapat merusak hubungan antarumat beragama akan semakin kecil, bahkan bisa dihilangkan. Karena itu, setiap kunjungan kami ke rumah ibadah bukan hanya soal menjaga kebersihan, tetapi juga membangun persaudaraan serta mencegah tumbuhnya intoleransi,” ujar Silvester.

Menurutnya, kegiatan bersama di rumah-rumah ibadah menjadi media efektif untuk memperkuat rasa saling memiliki, memperluas ruang dialog, serta membangun kepercayaan antarumat beragama.

Ia menegaskan, semangat tersebut sejalan dengan program moderasi beragama yang dijalankan Kementerian Agama serta strategi pencegahan yang dikembangkan Densus 88 Anti Teror Polri.

Sebagai tindak lanjut dari kolaborasi tersebut, Densus 88 dan Kemenag Manggarai Barat saat ini tengah menyusun draf Nota Kesepahaman (MoU) sebagai landasan kerja sama yang lebih berkelanjutan.

Dalam waktu dekat, kedua institusi juga berencana menggelar lomba lingkungan RT terbersih dan terasri di Kota Labuan Bajo dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Program tersebut akan melibatkan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat sebagai bagian dari gerakan membangun kepedulian sosial berbasis masyarakat.

Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Manggarai Barat, Fransiskus Xaverius Adi, menyampaikan apresiasi atas dukungan Densus 88 dalam menyukseskan program GeJur KEtAh.

Menurutnya, program tersebut lahir dari semangat gotong royong tanpa membebani anggaran negara, sekaligus menjadi media memperkuat pelayanan publik dan membangun budaya toleransi.

“Melalui kegiatan ini kami ingin menunjukkan bahwa keterbatasan anggaran bukan alasan untuk berhenti berinovasi. Kehadiran bersama Densus 88 menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas instansi mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menjaga kerukunan antarumat beragama,” katanya.

Program GeJur KEtAh sebelumnya juga telah dilaksanakan di Pura Agung Giri Segara pada 29 Mei 2026 dan Masjid Nurul Falah Waemata pada 5 Juni 2026. Kegiatan di Katedral Roh Kudus menjadi rangkaian ketiga yang memperlihatkan komitmen menjaga seluruh rumah ibadah tanpa membedakan latar belakang agama.

Kehadiran personel Densus 88 bersama ASN Kemenag mendapat sambutan hangat dari pihak Gereja. Atas nama Vikaris Paroki Katedral Roh Kudus Labuan Bajo, Rd. Yohanes Sudir mengaku terharu melihat keterlibatan peserta dari berbagai agama dalam membersihkan lingkungan gereja.

“Yang hadir bukan hanya umat Katolik, tetapi juga saudara-saudari Muslim dan agama lainnya. Ini menunjukkan bahwa semangat toleransi benar-benar diwujudkan dalam tindakan nyata. Kehadiran Densus 88 dan Kementerian Agama membawa semangat persaudaraan sekaligus membuat lingkungan gereja menjadi lebih bersih,” ungkapnya.

Kolaborasi tersebut menjadi contoh bahwa upaya pencegahan radikalisme dan intoleransi dapat dilakukan melalui pendekatan humanis, membangun kedekatan dengan masyarakat, serta memperkuat budaya gotong royong dan kerukunan antarumat beragama di Manggarai Barat. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *